PERTEMUAN KELIMA

Masalah kesehatan

Masalah kesehatan di bagi menjadi 2 yaitu:

  • Masalah gizi
  • Masalah perilaku
A. Masalah gizi

Masalah gizi merupakan hal yang sangat kompleks dan penting untuk segera diatasi. Terutama karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai permasalahan gizi paling lengkap. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa masalah gizi di Indonesia cenderung terus meningkat, tidak sebanding dengan beberapa negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu masalah gizi yang sudah terkendali, masalah yang belum dapat terselesaikan (un-finished), dan masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat (emerging).

Masalah gizi di Indonesia yang sudah terkendali

1. Kurang vitamin A (KVA)

Kekurangan vitamin A (KVA) merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia yang umum dialami oleh anak-anak dan ibu hamil. Meskipun ini termasuk masalah gizi yang sudah dapat dikendalikan, kekurangan vitamin A dapat berakibat fatal bila tidak segera ditangani.
Pada anak-anak, kekurangan vitamin A dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan dan meningkatkan perkembangan penyakit diare dan campak. Sementara untuk ibu hamil yang kekurangan vitamin A berisiko tinggi mengalami kebutaan atau bahkan kematian saat persalinan.
Jangan khawatir, kekurangan vitamin A dapat dicegah dengan pemberian kapsul vitamin A. Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus, sejak anak berumur enam bulan. Kapsul merah (dosis 100.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.000 IU) untuk anak umur 12-59 bulan.

2. GAKI

Tubuh Anda membutuhkan sejumlah iodium untuk membuat zat kimia yang dikenal sebagai hormon tiroid. Hormon tiroid inilah yang mengendalikan metabolisme dan fungsi penting tubuh lainnya. Kekurangan iodium atau GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) memang bukanlah satu-satunya penyebab kadar tiroid dalam tubuh menjadi rendah. Namun, kekurangan iodium dapat menyebabkan pembesaran abnormal kelenjar tiroid, yang dikenal sebagai gondok.
Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah telah mewajibkan semua garam yang beredar harus mengandung iodium sekurangnya 30 ppm. Bagaimana dengan Anda, sudahkah menggunakan garam beryodium?

3. Anemia

Anemia merupakan kondisi saat tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Masalah kesehatan ini paling banyak ditemukan pada ibu hamil dengan gejala-gejala berupa rasa lelah, lemah, pucat, detak jantung tidak beraturan, dan sakit kepala.
Berdasarkan data yang diambil dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, lebih dari 15 persen balita dan 37 persen ibu hamil mengalami anemia. Studi menunjukkan bahwa ibu hamil yang anemia memiliki risiko meninggal dalam proses persalinan hingga 3,6 kali lebih besar akibat pendarahan dan atau sepsis.
Untuk mencegah terjadinya anemia, ibu hamil dianjurkan untuk mengonsumsi paling sedikit 90 pil zat besi selama kehamilannya. Zat besi yang dimaksud adalah semua konsumsi zat besi selama masa kehamilannya, termasuk yang dijual bebas maupun multivitamin yang mengandung zat besi.

Masalah gizi di Indonesia yang belum terselesaikan

1. Gizi kurang

Tubuh kurus akibat gizi kurang sering kali dinilai lebih baik daripada tubuh gemuk akibat gizi lebih, padahal kenyataannya tidak. Sama seperti obesitas, anak maupun remaja dengan gizi kurang memiliki risiko pada kesehatannya. Nah, Anda bisa mengukur kategori status gizi Anda melalui kalkulator BMI ini.
Bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) umumnya akan mengalami kehidupan masa depan yang kurang baik. Pasalnya, kebutuhan zat gizi yang tidak terpenuhi dalam masa pertumbuhan balita akan meningkatkan kerentanannya terhadap penyakit infeksi pada awal-awal kehidupannya dan berlangsung hingga ia dewasa. Beberapa risiko gizi kurang di antaranya sebagai berikut:
  • Malnutrisi, defisiensi vitamin, atau anemia
  • Osteoporosis
  • Penurunan fungsi kekebalan tubuh
  • Masalah kesuburan yang disebabkan oleh siklus menstruasi yang tidak teratur
  • Masalah pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada anak dan remaja

2. Stunting

Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, umumnya karena pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Gejala-gejala stunting di antaranya:
  • Postur anak lebih pendek dari anak seusianya
  • Proporsi tubuh cenderung normal, tetapi anak tampak lebih muda atau kecil untuk usianya
  • Berat badan rendah untuk anak seusianya
  • Pertumbuhan tulang tertunda
Pada tahun 2013, sebanyak 37,2 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Kondisi ini seringkali dianggap normal karena alasan keturunan. Padahal, stunting dapat memengaruhi perkembangan otak, mengurangi produktivitas seseorang di usia muda, dan meningkatkan risiko pengembangan penyakit tidak menular di usia lanjut. Stunting juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas, dan kematian akibat infeksi.
Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah mulai dari awal kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak. Oleh karena itu, kebutuhan gizi ibu hamil harus terpenuhi untuk mengoptimalkan perkembangan janin. Selain itu, pemberian ASI eksklusif dan gizi seimbang pada balita perlu menjadi perhatian khusus agar anak tidak tumbuh pendek atau stunting.

Masalah gizi apa saja yang paling mengancam kesehatan masyarakat?

Berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report di tahun 2014, Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3 permasalahan gizi sekaligus, yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan overweight atau gizi lebih (obesitas).
Gizi lebih, umum dikenal dengan obesitas, termasuk dalam masalah gizi yang mengancam kesehatan masyarakat. Gizi lebih atau obesitas merupakan kondisi abnormal atau kelebihan lemak yang serius dalam jaringan adiposa yang dapat mengganggu kesehatan. Yuk, cek kategori status gizi Anda melalui kalkulator BMI ini untuk mengetahui apakah Anda termasuk gizi lebih atau tidak.
Penyebab gizi lebih yang paling mendasar adalah ketidakseimbangan energi dan kalori yang dikonsumsi dengan jumlah yang dikeluarkan. Baik pada kelompok anak-anak, remaja, maupun dewasa, prevalensi gizi lebih ini terus meningkat hampir satu persen setiap tahun. Bila sejak kecil anak sudah terkena obesitas, maka mereka akan lebih rentan terkena penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes dan penyakit jantung.
Untuk menjaga berat badan tetap seimbang dan ideal, Anda perlu mengubah pola hidup sehat dengan membatasi konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur.

B. Masalah perilaku
Perilaku merupakan faktor yang memegang peranan hampir 60% dalam determinan kesehatan, di samping faktor lingkungan. Namun, tidak hanya itu, berbicara perilaku akan sangat erat kaitannya dengan faktor budaya masyarakat.

Menurut Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, saat memberikan keterangan pers usai pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) tahun 2018 di International Convention Center (ICE) BSD Tangerang, Selasa siang (6/3), budaya tentunya juga termasuk salah satu faktor determinan yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat.

''Salah satu contohnya budaya patriarki di Indonesia atau dominasi laki-laki di dalam keluarga, mempengaruhi angka kematian ibu. Seringkali terjadi keterlambatan dalam pengambilan keputusan sehingga terlambat dibawa ke pelayanan kesehatan sehingga terlambat mendapat penanganan'', terang Menkes.

Contoh lain dari budaya di suatu daerah yang mempengaruhi pola perilaku masyarakat yang berdampak pada kesehatan yakni kebiasaan mengunyah makanan dengan tujuan untuk melumatkan dan diberikan kepada bayi. Hal ini membawa risiko besar bagi bayi yang diasuhnya, mengingat di dalam mulut orang dewasa banyak berkembang kuman dan akan berbahaya bila kuman tersebut sampai masuk ke dalam tubuh bayi.

Dijelaskan oleh Kepala Badan Litbangkes Kemenkes., Dr. Siswanto, MPH, bahwa berdasarkan Studi Etnografis di sekitar 50 Suku Etnis di Indonesia yang dilakukan Kemenkes secara umum menemukan hal menarik yang berkaitan dengan permasalahan stunting dan ibu anak. Diantaranya pada pola pengambilan keputusan terkait pola perawatan bayi baru lahir bertumpu pada nenek yang memiliki peranan penting. Hal menarik lain adalah pola distribusi makanan di dalam keluarga maka cenderung yang paling diutamakan adalah bapak, selaku kepala keluarga.

''Hal ini perlu menjadi perhatian, karena seperti kita ketahui pencegahan stunting yang perlu diperhatikan adalah remaja dan ibu hamil, agar dipahami bahwa asupan makanan jumlahnya harus cukup dan kualitas (gizi) nya juga harus cukup. Maka berdasarkan temuan itu, maka edukasi kesehatan perlu diperluas tidak hanya kepada ibu dan suami, tetapi diperluas ke keluarga besar'', ujar Siswanto.

Ditambahkan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, bahwa faktor budaya dan perilaku sangat erat kaitannya dengan persoalan kesehatan. Tidak hanya menjadi hambatan (tantangan) bagi kesehatan sebenanrnya, budaya dan perilaku juga bisa menjadi faktor pendukung.

Dijelaskan secara khusus terkait konteks perilaku dalam persoalan gizi, kita berbicara mengenai tiga aspek, yakni memilih mengolah dan menyajikan bahan makanan. Sementara dari segi budaya faktor budaya, dalam pemilihan dan pengolahan keputusan ada di Ibu, namun sisi penyajian (konsumsi) lebih banyak porsi untuk Bapak.

''Pembelajaran kita lihat dari kejadian di Asmat beberapa waktu lalu, bahwa urusan pengolahan makanan diserahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada mamak-mamaknya tanpa memberikan pendapatan yang cukup. Bahkan, bila anak kurus, terkesan hanya mamak-mamak yang dipersalahkan'', imbuh Anung.

Ditegaskan oleh Anung, bahwa mengubah budaya masyarakat yang kurang sesuai dengan perinsip kesehatan bukanlah perkara yang mudah. Namun perubahan itu perlu dimulai dan terus dilakukan, agar secara perlahan terbentuk sebuah kesadaran dan diharapkan menjadi kebiasaan.

Menurut Anung, salah satu perubahan kecil yang bisa dilakukan adalah mulai mengubah kebiasaan porsi sajian makanan sesuai dengan ketentuan si piringku.

''Bagi kita yang usianya bukan lagi di masa-masa pertumbuhan, mulailah mengubah susunan penyajian makanan yang akan disajikan atau mengubah urutan pengambilannya. Piring diisi pertama kali oleh sayur dan buah yang porsi kebutuhannya lebih banyak, diikuti lauk pauk, baru nasi dan air putih'', tandasnya.

C. Hubungan gizi dengan perilaku
Menurut saya ada kaitannya gizi dengan perilaku, kenapa saya katakan seperti itu.  karena jika kita bisa menjaga perilaku hidup sehat maka apa yang kita makan atau konsumsi dengan baik dan benar maka gizi kita juga baik.

D. Kelompok perilaku kesehatan
  • Memelihara kesehatan
  • Upaya saat sakit
  • Respon terhadap lingkungan
1. Memelihara kesehatan
Menurut saya memelihara kesehatan itu penting karena  Allah SWT telah memberikan kita tubuh yang sehat, jadi kita manusia ini sebaiknya menjaga tubuh kita agar sehat selalu biar kita terhindar dari penyakit.
4 tips menjaga kesehatan dan terhindar dari penyakit

 Aktivitas fisik, di mana pun dan kapan pun

Kunci hidup sehat adalah aktif bergerak. Nah, Anda salah satu orang yang suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton serial sinetron atau drama di TV? Anda tetep bisa produktif melakukan aktivitas fisik saat sedang nonton TV. Caranya sederhana, manfaatkan waktu iklan sebagai ajang untuk melakukan peregangan otot, push up, sit up, atau pun plank.
Jadi, tidak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia meskipun Anda sedang nonton TV. Selain memanfaatkan jeda waktu iklan ketika Anda menonton TV, Anda juga bisa melakukan beberapa aktivitas fisik yang bisa dilakukan di rumah. Misalnya, bersih-bersih rumahnaik turun tangga, berkebun, jalan santai, dan lain sebagainya. 

2. Cukup tidur

Selain aktif beraktivitas, Anda juga harus mencukupi waktu tidur Anda. Pasalnya, tidur adalah sebuah kebutuhan paling mendasar yang menjadi sebuah fondasi di mana pikiran dan tubuh sehat terbentuk. Jika fondasi tersebut goyah, tentunya akan berdampak pada kesehatan Anda. Mulai dari fungsi kekebalan tubuh, energi, selera makan, suasana hati dan lain sebagainya. Pada dasarnya, waktu tidur ideal setiap orang berbeda-beda. Namun, para pakar setuju jika waktu tidur ideal rata-rata orang dewasa berkisar 7 sampai 9 jam setiap malamnya. Jadi, untuk menjaga kesehatan tubuh, mulai sekarang cukupi waktu tidur Anda dan hindari begadang sampai larut malam.

3. Banyak minum

Air merupakan kebutuhan paling mendasar untuk tubuh. Jika tubuh kekurangan air, maka sel-sel dalam tubuh akan lebih sulit untuk melakukan fungsi sebagaimana mestinya. Di sisi lain, Anda juga akan lebih berisiko mengalami dehidrasi. Jika Anda mengalami dehidrasi, ini akan menguras energi sehingga membuat Anda lebih cepat lelah.
Banyak orang yang bilang kalau kita harus mencukupi kebutuhan minum air putih 8 gelas setiap hari. Padahal, belum tentu. Pasalnya, kebutuhan air tiap orang berbeda-beda. Bisa jadi Anda butuh minum air kurang atau bahkan lebih dari rekomendasi tersebut. Yang terpenting, jangan tunggu Anda merasa sampai haus baru minum air putih. Pasalnya, rasa haus yang muncul itu sebenarnya sudah jadi tanda tubuh Anda mengalami dehidrasi sebanyak 2 persen. Jadi, selagi Anda mampu dan sanggup, cukupilah kebutuhan cairan Anda. Tidak melulu dari air putih, Anda juga bisa mencukupi kebutuhan cairan Anda dari sayuran dan buah yang kaya air.

4. Makan perlahan

Banyak orang mengaku kalap dan lupa diri saat melihat banyak makanan berjejeran di depan mata. Rasanya, semua yang ada di depan ingin dinikmati secepat mungkin. Tidak jarang, hal ini membuat Anda makan dengan cepat, sehingga Anda tidak sadar telah makan dalam porsi besar dan mendapatkan kalori yang tinggi. Padahal, berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Journal Academy of Nutrition and Dietic, mengonsumsi makanan secara perlahan sangat berpengaruh besar dalam mengurangi jumlah kalori dalam tubuh Anda, lho! Ketika makan dengan lebih lambat, tanpa sadar Anda sudah kenyang padahal baru makan dalam porsi yang lebih kecil.

Akibatnya, makan perlahan secara tidak langsung dapat mengendalikan berat badan yang pada akhirnya dapat mencegah terjadinya obesitas. Selain itu, makan secara perlahan juga membantu memperlancar sistem pencernaan dan membuat Anda merasa lebih kenyang meskipun jumlah makanan yang Anda konsumsi tidak banyak.

2. Upaya saat sakit

Berusaha Mencari Pengobatan
"Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan sekali kali kamu merasa tidak berdaya”. (HR Abu Hurairah). Jangan berdiam diri ketika sakit, hal tersebut sama saja tidak memiliki semangat hidup dan tidak disukai oleh Allah wajib berusaha mencari obat yang terbaik disertai doa kepada Allah agar mendapatkan berkah dan kesembuhan dari obat tersebut dan sakit yang diderita dapat sembuh.
Berfikir Positif
Dalam berbagai ayat Al Qur’an tentang motivasi selalu diperintahkan untuk berfikir positif dalam kondisi apapun. “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah selalu bersama kita”. (QS At Taubah : 40). Allah senantiasa memberikan pada hambaNya sesuai yang diprasangkakan, sehingga ketika dalam kondisi sakit harus tetap disikapi dengan berpikir positif kepada Allah bahwa sakit tersebut adalah ujian dan ujian akan menggugurkan dosa dosa orang yang terkena sakit tersebut.

3. Respon terhadap lingkungan
Menurut David Wechsler , inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :
Faktor bawaan atau keturunan
Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.
Faktor lingkungan
Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan  yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.
Pengukuran Inteligensi
Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.
Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTEMUAN KEEMPAT

PERTEMUAN KEDUA

SAMBUNGAN PERTEMUAN KEENAM